
Nusron Wahid
"Ansor jangan terpancing melakukan kekerasan. Karena inilah sikap yang paling baik menghadapi gempuran dari pihak lain yang dipicu pemberitaan sebuah majalah berita mingguan, soal Algojo 65," tegas Nusron paska sarasehan kebangsaan bertema Mengingat Kembali Pemberontakan PKI Tahun 1948 - 1965 di Kantor Pusat GP Ansor, Rabu (17/10/2012).
Sarasehan yang digelar GP Ansor menghadirkan pembicara sejarawan Taufiq Abdullah, penulis, pelaku sejarah Salim Said, mantan Ketua Umum PB NU KH. Hasyim Muzadi, sesepuh Ansor KH. Chalid Mawardi, dan Wakil Ketua NU Asad Said Ali.
Nusron mengatakan, rekonstruksi sejarah masa lalu seperti peristiwa G 30 S PKI memang bisa saja dilakukan, namun harus konprehensif dan tidak merugikan pihak lain. Sebab sulit juga mendapatkan relevansi jika mengungkit masalah G30 S PKI dengan semangat dan konteks saat ini, kemudian melupakan nuansa dan kondisi kala kejadian itu terjadi.
"Jangan pula menampilkan sejarah secara sepenggal-sepenggal dan tidak utuh. Hal itu membuat pihak lain dirugikan. Jika terus seperti itu, tentu kita akan mengambil langkah-langkah," tegas anggota DPR dari Golkar ini.
Nusron juga setuju tak perlu ada permintaan maaf terkait peristiwa 65 karena semuanya menjadi korban. "Yang perlu kita lakukan adalah melakukan introspeksi untuk menatap masa depan," tegasnya.
Menurut Nusron, berbagai sejarah politik Indonesia seperti Peristiwa Madiun 1948, dan Gerakan 30 September 1965 yang serin disingkat G 30 S atau dikaitkan juga dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah peristiwa situasional yang penuh konflik dan dendam. Karena itu, apa pun bisa terjadi dalam kondisi seperti itu. "Makanya usulan meminta maaf tidak relefan dan hanya bernunasa politis, yang bukan tidak mungkin membuka dendam lama kembali," tegasnya.
Adapun peneliti sejarah Salim Said mengatakan, sebagai orang yang meliput langsung peristiwa Gestapu sejak awal, dia memahami betapa kondisi kala kejadian itu berlangsung memang sangat susah.
Salim yang mengikuti operasi militer yang dilakukan TNI AD menegaskan bahwa permintaan maaf dalam kaitan pembunuhan yang terjadi tahun 1965 tidak menyelesaikan masalah, karena yang menjadi korban bukan hanya orang-orang PKI, tetapi juga ulama, kader Ansor dan orang-orang Marhaenis.
"Berhentilah meminta maaf. Mulailah membantu semua korban yang masih ada sambil menunjukan empati yang tinggi, demi kearifan masa lalu," tegas Salim Said.
(muh sahlan/Koran SI/ful)




0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !